Sejarah Rumah Adat Sumatera Selatan

Diposting pada

Sejarah Rumah Adat Sumatera Selatan

Sumatera Selatan ialah suatu provinsi di Sumatera yang sudah lama berkembang serta bahkan juga sudah sempat jadi pusat perniagaan Nusantara di waktu yang lalu. Hilir mudik pelaut serta pedagang dari seluruh dunia yang berkunjung di Palembang semenjak waktu kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sudah banyak memengaruhi peradaban penduduk di provinsi ini. Walaupun demikian, kearifan lokal dari suku aslinya, yaitu Suku Palembang kenyataannya dapat meredam gempuran budaya luar yang hadir. Salah satunya kearifan lokal itu contohnya dapat kita dapatkan pada rumah adat Palembang Sumatera Selatan yang bernama Rumah Limas yang menggunakan sentuhan desain rumah klasik padarumah adat tersebut.

Nama “Limas” pada rancangan rumah ini datang dari bentuk atapnya yang seperti piramida terpenggal (limasan). Rumah ini berstrukturkan panggung digunakan menjadi tempat kegiatan beberapa wanita sehari-hari.

rumah klasik

Tidak hanya berubah menjadi simbol budaya yang terkenal dengan rumah klasik, di waktu yang lalu rumah adat Limas Sumatera Selatan ikut berperan menjadi rumah penduduk Suku Palembang. Karena itu, rumah Limas dibagi menjadi beberapa bagian sama dengan peruntukannya. Di bagian depan ada jogan, ruang kerja, gegajah, serta amben. Ruang itu jadi ruang pokok waktu pemilik rumah mengadakan acara seperti kenduri, upacara adat, penerimaan tamu, dan pertemuan-pertemuan khusus.
Di bagian tengah ada kamar Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren (kamar wanita), Pangkeng Keputran (kamar pria), Ruangan Keluarga, serta Ruangan Anak Menantu, Pangkeng Penganten (kamar pengantin). Di bagian belakang ada Dapur atau pawon, Ruangan Hias, Ruangan Pelimpahan, serta Toilet.
Di bagian lantainya dibikin khusus bertingkat-tingkat atau biasa disebut kekijing dengan memakai kayu jenis tembesu yang berupa papan (persegi panjang) diatur dengan horizontal menurut besaran masing-masing ruangan. Sesaat pada dinding Rumah Limas dibuat dari kayu model merawan yang berupa papan, melalui langkah penataan serta besaran yang sama juga dengan papan pada lantai.

Rumah limas dibuat dengan menghadap timur dan barat. Ketentuan ini berlaku karena suku Palembang berpedoman falsafat “Matoari eedoop serta matoari mati” yang berarti matahari keluar serta matahari tenggelam. Falsafah ini mempunyai nilai filosofis jika orang Palembang mesti dengan cara proporsional mengingat jika kehidupan dalam dunia cuma sesaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *